Tentang Lomba yang Dihentikan

Tertawa dan Lomba Debat

Selamat merayakan hidup!

Menteri pendidikan negara yang baru menandatangani lembar keputusan: hentikan lomba itu, sekarang! Terhuyung-huyung, para punggawa bawahan tanpa sempat bertanya menjawab: siap, laksanakan!

Bukan mengada-ada keputusan itu diambil. Saat lomba itu dilangsungkan, ia repot bukan kepalang. Selepas mengalungkan medali emas kepada pemenang, ia mesti bergegas ke sekolah asal pemenang. Di pintu gerbang sekolah itu, ia menyampaikan sambutan selamat datang kepada ribuan siswa baru.

Lho, di tengah tahun pelajaran boleh menerima siswa baru? “Sebenarnya tidak boleh. Apalagi jumlah besar. Tapi bagaimana lagi, ini konsekuensi pemenang, harus mau menerima seluruh siswa dari sekolah lain yang kalah dalam pertandingan,” sanggah sang kepala sekolah sambil mengurut tangannya yang pegal karena menerima cium tangan dari siswa yang masuk sekolah pagi itu.

Sebelum sempat bertanya lebih jauh, saya dicegah oleh menteri. “Gara-gara lomba ini saya dikomplain menteri pekerjaan fisik,” keluhnya sedih. Ia menirukan ucapan menteri pekerjaan fisik, “Memangnya kami ini Bandung Bondowoso, bisa membangun lokal kelas baru hanya dalam semalam?” Menteri pendidikan negara beringsut tak sanggup menjawab.

Tidak hanya itu. Menteri pengelolaan aset juga menyatakan keberatannya, “Lalu gedung sekolah yang ditinggalkan mau diapakan?” “Iya, guru-guru yang sudah kami sertifikasi harus kami beri pekerjaan apa kalau sekolahnya kosong?” timpa menteri aparatur sipil.

Begitulah. Kekacauan administrasi memorakporandakan tatanan pemerintahan hanya gara-gara satu lomba. Belum lagi di rumah-rumah. Setiap orangtua mengeluhkan lomba itu. Jika sekolah anaknya menang, esok pagi mereka akan berebut parkir saat mengantar anaknya. Anaknya akan berdesakan berebut tempat duduk. Sedangkan jika sekolah anaknya kalah, mereka tak kalah pusingnya, harus mengubah rute pengantaran dan penjemputan di sekolah yang baru. Perubahan rute itu berpengaruh pada jarak ke tempat kerja serta suasana hati saat bekerja.

Sesampai di rumah mereka masih akan dipusingkan untuk menemani anaknya menghapalkan mars dan himne sekolah yang baru. Setiap pekan ganti. Paguyuban alumni tak kalah peningnya. Keberadaan mereka terancam bubar karena tak ada lagi anak yang hanya lulus dari satu sekolah. Semakin sering ikut lomba itu, menang atau kalah, mereka akan berpindah sekolah.

Tak mau larut dalam kekacauan berkepanjangan, dan tak mau dipecat Presiden seperti menteri sebelumnya, menteri pendidikan negara beranikan diri ambil keputusan: stop lomba itu! Ia menolak didebat atas keputusannya tentang lomba yang diberhentikannya: lomba debat. Untuk ini ia belajar dari menteri terdahulu. Apa yang dipelajari?

Menteri terdahulu menjagokan diri sebagai calon gubernur. Suatu ketika, ia mangkir hadir dari acara debat yang digelar sebuah stasiun teve. Panjang alasan yang dikemukakan oleh tim kampanyenya. Namun ada satu alasan yang disembunyikan, yakni maklumat debat yang ia hindari: pihak yang kalah debat wajib mengikrarkan diri sebagai pendukung pihak yang menang. Ia tahu, menang atau kalah sama akibatnya: kacau. Setidaknya, kacau akal sehatnya!

Bali, 7 April 2017
@AAKuntoA
#cerpen #ceritafiktif #lombadebat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *