Tokjo, mengecilkan diri untuk memuliakan bapaknya

Totok Marjo RIPTokjo kependekan dari Totok Mardjo; Totok anaké Mardjo. Totok panggilan dari Mas Hermawan Aswindarto Agustinus, Mardjo panggilan Pak Soemardjo Thomas, bapaknya.

Tokjo jadi pembeda dari Totok lain. Tokjo juga jadi penanda ialah satu-satunya di muka bumi yang empunya nama ini. Hanya dia Totok anak Mardjo. Silakan buktikan.

Ia pergi lintas kota memperkenalkan produk ini, termasuk menemui Rektor De Britto Rm Kuntoro Adi SJ dan berpesan, “Guru-guru tidak boleh sakit.”

Tokjo tampak menikmati panggilan itu. Ia tidak risih dikenal dalam bayang-bayang nama besar bapaknya. Ia seperti menghayati semboyan “ad maiorem dei gloriam” dalam skala konkret, “Biarlah orang mengecilkan aku jika itu bisa memperbesar kemuliaan bapakku.”

Tokjo tidak pernah membawa-bawa nama bapaknya untuk mempermudah jalannya. Teman-temannyalah yang selalu melekatkan nama besar bapaknya: mantan Kepala SMA Kolese de Britto, Yogyakarta, almamaternya. Ia justru menempuh jalan terjal supaya minimal tidak mengurangi nama besar bapaknya.

Tokjo menempuh jalan terjal berupa kerja keras membangun bisnis, salah satunya yang terbaru, memroduksi “air care” untuk sterilisasi ruangan agar terbebas dari virus, termasuk virus SARS-CoV-2. Ia pergi lintas kota memperkenalkan produk ini, termasuk menemui Rektor De Britto Rm Kuntoro Adi SJ dan berpesan, “Guru-guru tidak boleh sakit.”

Tokjo melampaui batas diri. Ia sediakan waktu di antara keterbatasan waktu untuk lingkungan sekitarnya. Ia berkawan baik dengan banyak orang, lintas generasi lintas kepentingan. Presiden Perkumpulan Alumni Kolese de Britto Mas Handoko Wignjowargo bilang, “Saya pilih dia sebagai wakil presiden perkumpulan alumni karena dia bisa jadi jembatan ke mana-mana. Urusan lobi-lobi dia.”

Ia menyadari, bapaknya adalah juga bapak teman-temannya. Ia beri kesempatan teman-temannya menghormati bapaknya sebagai anak-anaknya.

Tokjo hadir penuh di mana-mana, membesarkan orang-orang yang didukungnya. Kehadirannya natural. Ia pribadi autentik yang saya kenal sejak pertama merantau di Ibu Kota 20 tahun lalu. Kepada adik-kelas-jauhnya, saya di antaranya, ia selalu menyapa terlebih dulu. Saya tiru ini!

Tokjo lakukan itu, dari sudut tersembunyi yang saya imajinasikan, tak sekadar untuk membesarkan nama bapaknya. Ia lebih-lebih hendak membesarkan hati bapaknya. Dua peristiwa saya rekam dengan lensa untuk menunjukkan ini.

Tokjo sigap membantu bapaknya mengemasi tas dan souvenir. Selesai dari acara Becik di Cikarang, 26 Februari 2018, Pak Mardjo hendak pulang ke Jogja. Ia tak mengantar. Ia pasrahkan bapaknya diantar teman-teman ke bandara.

Ia tepis rasa takut dan khawatir “kalau ada apa-apa di jalan”. Ia lebih memilih mensyukuri, “Yang penting Bapak bahagia.”

Kalau itu bapak saya, tak mungkin saya melakukannya. Sebisa-bisa saya akan antar sendiri bapak ke bandara. Mana tega saya melepas bapak saya.

Tokjo tak melakukan itu. Ia menyadari, bapaknya adalah juga bapak teman-temannya. Ia beri kesempatan teman-temannya menghormati bapaknya sebagai anak-anaknya. Ia rela diejek, “Kok kamu tega lepasin bapak pulang sendiri. Durhaka kamu.” Seperti biasa, si kumis tebal ini hanya tertawa.

Tokjo menggelar pesta rahasia pada 28 Desember 2018. Bapaknya ulang tahun ke-80. Di luar, dengan trailer yang digandeng Kombi Jerman ijonya, ia menyiapkan hadiah sepeda baru untuk bapak yang masih gemar bersepeda lintas provinsi.

Kalau itu bapak saya, tak mungkin saya melakukannya. Saya pilih belikan alat pertukangan komplet supaya bapak berdiam di rumah.

Tokjo tak melakukan itu. Ia beri bapaknya kebebasan melakukan apa yang beliau sukai; bukankah kebebasan itu yang bapak berikan padanya sejak di rumah hingga sekolah di De Britto? Tak hanya kepada anak, Willy dan adik-adiknya, Tokjo memberi kebebasan. Itu sudah semestinya. Ia pun beri kebebasan pada orangtuanya, sosok yang karena usia biasanya dikurung oleh anak-anaknya. Ia tepis rasa takut dan khawatir “kalau ada apa-apa di jalan”. Ia lebih memilih mensyukuri, “Yang penting Bapak bahagia.”

Maka, lepas bebaslah kita dari kelekatan rasa memiliki Tokjo, sebab ia telah kembali kepada Sang Pencipta.

Tokjo, rasa saya, menghayati betul asas dasar spiritualitas Ignatian ini:

“Oleh karena itu, kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada diri kita dan tak ada larangan. Maka dari itu dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih dari kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek.”

Tokjo membumikan prinsip ini untuk membesarkan bapaknya, memuliakan Allah. Maka, lepas bebaslah kita dari kelekatan rasa memiliki Tokjo, sebab ia telah kembali kepada Sang Pencipta.

50 tahun hidupmu dunia, berbahagialah di surga selama-lamanya. RIP. Tokjo sudah jadi Tokgo: Totok Swargo. Amin.

Ad Maiorem Dei Gloriam,
@AAKuntoA | 02072021

6 Comments

Add Yours

Comments are closed.