Transformasi Kereta

@ Danau Singkarak: rel kereta Padang-Payakumbuh yang mangkrak. (foto: AA Kunto A)

@ Danau Singkarak: rel kereta Padang-Payakumbuh yang mangkrak. (foto: AA Kunto A)

Turki makin menyatu dengan Eropa. Pekan lalu, Turki meresmikan terowongan kereta api Marmaray yang sudah digagas 150 tahun lalu oleh Sultan Ottoman. Dinamakan Marmaray karena terowongan sepanjang 13,6 km dan berkedalaman 55 m itu menyibak Laut Marmara.

Di pekan yang sama, Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan meresmikan pengoperasian kembali KA Pangrango jurusan Bogor-Sukabumi. Sempat berhenti beroperasi setahun lalu, kehadiran kereta yang membelah Gunung Pangrango ini disambut antusias warga. Sukabumi menjadi lebih dekat dengan Bogor karena waktu tempuh lebih singkat dibandingkan melewati jalan raya.

Bertautan, sebulan lalu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo juga meresmikan pembangunan stasiun kereta transportasi massal cepat (MRT—Mass Rapid Transit) yang sudah digagas 24 tahun lalu, pernah dimulai di zaman Presiden Megawati, dan mangkrak. MRT ini hadir sebagai alternatif transportasi bebas macet.

Banyak persamaan dari ketiga contoh di atas. Pertama, kesadaran untuk membangun kembali transportasi publik. Kedua, pengutamaan pelayanan massal daripada individual. Ketiga, mimpi besar pasti berkarat jika tak disertai keberanian memulai.

Yang menarik, kehadiran transportasi massal ini melimpahi berderet manfaat. Kereta bukan hanya transportasi bagi manusia dan barang, melainkan juga menjadi medium pertukaran informasi, ide, dan kebudayaan. Kereta bukan sekadar alat angkut, melainkan juga alat ungkit. Juga, kereta bukan lagi sarana menuju ke suatu tempat semata. Kereta sudah menjadi destinasi wisata.

Turki contohnya. Marmaray akan jadi terowongan peradaban yang membuat mereka semakin pantas menjadi bagian dari modernitas Asia dan Eropa. Juga sebagai terowongan kultural, yang menempatkan Turki di Asia bercita rasa Eropa. Dan kereta adalah simbolisasi bagaimana pergerakan berlangsung secara berombongan, bukan perorangan.

Tak kalah menarik adalah terjadinya perang kesadaran. Ternyata, massal, rombongan, ukuran besar, gemuk, tak lagi berarti lambat. Sebagaimana, individual, perorangan, ramping, kurus, tak lagi bermakna gesit. Di Jakarta-Bogor-Sukabumi, pengertian “kecil itu gesit” terjerat di simpang-simpang kemacetan.  Fakta ini memaksa kita berpikir ulang tentang logika lama kepada logika baru: gemuk itu gesit. Syaratnya sederhana: tersedia sistem dan infrastruktur yang memadai.

Saya suka naik kereta. Saya selalu rindu naik kereta. Saya berharap, jalur-jalur kereta api yang sudah mati dihidupkan kembali: Jogja-Bantul, Jogja-Semarang, Solo-Wonogiri, Purwokerto-Banjarnegara-Wonosobo, dan masih banyak lagi.

 

Salam hangat,

@AAKuntoA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *