Tugasku Melangkah

PhotoGrid_1458795386841

Walau kaki patah, saat masih berpengharapan, kaki tetap melangkah.

Saya tak ingat persis sumber ungkapan itu. Yang jelas, saya terkesan dengan ungkapan itu. Dan mengamini.

Dua dekade lalu, pada pagi yang masih kanak-kanak, saya tersungkur di jalan raya. Motor yang saya kendarai diseruduk mobil dari arah berlawanan. Urung ke sekolah, saya digotong ke dalam mobil penolong lalu dilarikan ke rumah sakit. Ibu saya yang menangani saya di IGD, tentu dibantu teman-teman perawat beliau. Berangkat dari rumah 10 menit lebih awal, pasien pertama ibu adalah anaknya sendiri.

Kaki saya patah. Lebih: remuk. Operasi panjang saya tempuh. Tertolong, tak jadi diamputasi. Dua bulan saya terbaring di ranjang. Tak sekolah.

Demi bisa jalan lagi, setahun saya menopang tubuh dengan tongkat penyangga. Ke mana-mana nebeng.

Giliran sembuh, dan saatnya angkat pen yang tertanam di tulang, saya terantuk kenyataan: pen bengkok. Operasi pertama dan kedua gagal. Alat penarik tak sanggup menuntaskan tugasnya. Operasi ketiga baru mulus setelah didatangkan bantuan alat dari rumah sakit khusus ortopedi. Hmmm, dalam dua minggu menjalani tiga kali pembedahan.

Saya ingat rasa itu. Sejatinya sakit. Namun hasrat untuk sembuh membenamkan rasa itu.

Maka, ketika Laura Lazarus memutuskan bertekun menempuh operasi demi operasi, yang hari ini ke-18, saya bisa merasakan bagaimana deg-degannya. Antara pasrah dan penuh pengharapan untuk sembuh.

Saya berkirim doa untuk kelancaran operasi Laura. Mohon dukungan doa pula dari sahabat semua.

Laura sosok yang luar biasa. Saya baru mengenalnya setahun lalu di forum penulis di Jakarta. Laura penulis buku “The New Unbroken Wings”. Buku itu berkisah tentang kebangkitannya dari peristiwa traumatis: pesawat yang ditumpanginya terjerembab. Ia selamat namun tak bisa lagi meneruskan kariernya sebagai pramugari. Menurutnya, keajaibanlah yang memungkinkannya hidup.

Karena tak mau mati sebelum ajal, seperti juga saya Kunto CoachWriter putuskan setelah kecelakaan itu, Laura memulai hidup baru sebagai penulis. Ia pun mendirikan penerbit buku.

Kami “bertemu” di persimpangan ini. Hidup harus terus berlanjut. Kaki boleh patah, tidak dengan harapan.

Lancar operasimu, Laura. Paragraf-paragraf berikutnya menanti torehan inspirasimu. Setuju denganmu, “Tuhan pasti tolong. Dia yang menyembuhkan, dokter yang membantu. Amin.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *