Tutup De Britto, demi kemuliaan Allah yang semakin kecil

Tutup. Hening. Siapkan sesuatu yang baru. Foto: Sarah Kloepping/USA TODAY NETWORK

Tutup. Hening. Siapkan sesuatu yang baru. Foto: Sarah Kloepping/USA TODAY NETWORK

Meneladan Santo Yohanes de Britto pada “dunia baru pandemi covid-19”, seperti apa?

Gagasan saya singkat: tutup SMA Kolese de Britto! Rehat 1-2 tahun, lalu dirikan sesuatu yang sama sekali baru. Sistem pendidikan baru. Pun guru-guru baru. Tidak usah sentimentil dengan kejayaan masa lalu. Sudah selesai, songsong masa depan! Menteri pendidikan saja bisa kok tak berlatar kependidikan.

Pandemi covid-19 ini, mengabaikan penyebab-penyebab kematian-mematikan lain seperti kecelakaan lalu lintas dan TBC, akibatkan lonjakan kematian yang begitu tinggi. Seluruh dunia tiarap oleh virus yang dalam tempo cepat menumbangkan banyak nyawa manusia. Teruskan sendiri narasinya…

De Britto juga mencuat ke permukaan dengan hadir sebagai intelektual yang kritis terhadap pandangan masyarakat setempat akan kebenaran yang mereka yakini. Keberanian ini berkat ketekunannya menguasai bahasa Sanskerta, bahasa kalangan intelektual. Dengan bahasa ini, plus bekal filsafat yang pernah ia pelajari di Evora, ia mampu menempus pokok-pokok keyakinan masyarakat setempat.

Kebiasaan baru datang dengan paksaan level dewa: jaga jarak, batasi interaksi. Pembelajaran formal pun beralih ke daring. Tak ada lagi pembelajaran di sekolah. Murid belajar di rumah.

Suka tidak suka, demi keselamatan bersama, perubahan yang tidak mengenakkan itu diterima. Tak sedikit yang menggerutu. Tak sedikit yang menggugat.

Saya? Saya memutuskan ikuti perubahan. Dalam pembelajaran, karena saya seorang pelatih pada kelas-kelas menulis dan NLP, saya memilih menyesuaikan diri dengan kelas-kelas daring. Memang, garing!

Hari ini, 4 Februari, pesta Santo Yohanes de Britto, santo pelindung SMA Kolese de Britto, almamater saya. Tak hendak merayakan dengan begitu-begitu saja, saya menyodorkan satu gagasan yang sangat relevan dengan zaman kini dan esok.

Usul saya singkat: tutup SMA Kolese de Britto! Tutup, bukan bubarkan. Ambil jeda 1-2 tahun tak terima murid baru. Cari dan temukan konsep dan bentuk baru penyelenggaraan sekolah yang lebih menjawab tantangan masa depan.

Dasar gagasan saya terang, yakni teladan hidup Santo Yohanes de Britto yang saya rangkum dari berbagai sumber berbunyi demikian:

Saat sudah bergabung di Serikat Jesus, di usia 15 tahun, De Britto sudah mengajukan diri kepada pembesarnya, Paul Oliva, untuk menjadi misionaris mengikuti jejak Fransiskus Xaverius, jesuit yang menginspirasinya meninggalkan Don Salvador de Britto Pareira, ayah yang seorang bangsawan kepala kerajaan di Lisboa, Portugal. Permohonannya dikabulkan setelah ia menyelesaikan studi teologi di Universitas Coimbra dan ditahbiskan sebagai imam di 1673.

Ke India ia berangkat sebagai misionaris. Tepatnya di Madurai, mengikut jejak pendulunya Roberto de Nobilli yang sudah berkarya di sana 35 tahun. Tepatnya lagi, belajar dari pendulunya, ia membaur dengan terutama mempelajari tradisi dan budaya setempat. Persis ia mengoreksi kepongahan misionaris-misionaris Eropa sebelumnya yang cara hidupnya jadi batu sandungan kultural-relasional dengan masyarakat setempat, di antaranya, makan daging sapi dan minum minuman keras.

Usul saya singkat: tutup SMA Kolese de Britto! Tutup, bukan bubarkan. Ambil jeda 1-2 tahun tak terima murid baru. Cari dan temukan konsep dan bentuk baru penyelenggaraan sekolah yang lebih menjawab tantangan masa depan.

De Britto memilih cara hidup seperti De Nobilli, yakni makan dan minum seperti pendeta pada umumnya. Bedanya, jika De Nobilli hadir sebagai pendeta, De Britto memilih derajat lebih rendah, yakni menjadi pandata swami. Derajat lebih rendah inilah kemudian yang membuka jalannya lebih terbuka untuk bisa srawung dan menghimpun banyak orang dari berbagai kasta—sesuatu yang mustahil sebelumnya. Rahasia keberterimaannya ada pada penguasaan bahasa Tamil, bahasa kalangan kebanyakan.

Selain “ndlosor” merendah, De Britto juga mencuat ke permukaan dengan hadir sebagai intelektual yang kritis terhadap pandangan masyarakat setempat akan kebenaran yang mereka yakini. Keberanian ini berkat ketekunannya menguasai bahasa Sanskerta, bahasa kalangan intelektual. Dengan bahasa ini, plus bekal filsafat yang pernah ia pelajari di Evora, ia mampu menempus pokok-pokok keyakinan masyarakat setempat. Banyaknya orang yang datang kepadanya dan minta dibaptis juga karena kemampuannya mengajarkan kebenaran akan Allah.

Tentu, penyederhanaan kisah ini tak bermaksud menutupi kerumitan dan kesengitan kisah sebenarnya. Selain nyaris dieksekusi Raja Marava yang marah karena sikap iman “monogami” yang merugikan kemenakan raja, namun urung karena raja memutuskan untuk membuangnya ke luar kerajaan, rintangan dan penganiayaan bukan hanya bumbu melainkan hidangan utama perjalannya di tanah misi. Puncaknya, ia tewas dipenggal oleh algojo Gubernur Oriur pada 4 Februari 1693 gara-gara menolak menyembuhkan gubernur yang lumpuh dan buta dengan berkilah, “Hanya Tuhan yang dapat menyembuhkan engkau.”

Selain sudah saya tulis di sini, sini, sini, dan sini, refleksi saya dari perjalanan misi Santo Yohanes de Britto:

“De Britto cukup sampai di sini. Pendidikan gaya Eropa, dengan tradisi akademik baratnya, dengan nafsu belajar globalnya, sudahi sudah. Saatnya masuki tradisi dan budaya lokal, dengan olah ilmu ketimurannya, dengan kesadaran menjunjung tinggi di mana bumi dunung.”

Tanah misi itu kini bernama “dunia baru pascapandemi covid-19”. Ciri di dunia pendidikan, pembelajaran dilangsungkan secara daring. Jika kelak tiba waktunya kembali ke sekolah, pembelajaran luring tak akan sama dengan pembelajaran semasa sebelum pandemi. Virus online sudah mempengaruhi murid, guru, dan orangtua murid; apa pun umpan baliknya. Adalah bodoh jika pengaruh daring diabaikan begitu saja atau bahkan ditolak. Tapi belum tentu pintar juga jika pembelajaran daring hanya begitu-begitu saja.

SMA Kolese de Britto adalah “dunia baru pascaperang dunia kedua” sejak didirikan 19 Agustus 1948. Konsep pendidikan bebas, yang terumus oleh Romo Oei Tik Djoen SJ medio 1970, dan masih diberlakukan hingga kini, adalah buah-buah kebaruan dari tonggak awal 73 tahun lalu. Sudah banyak panenannya. Tanahnya sudah mengeras. Sudah saatnya diperbarui.

Membayangkan Santo Yohanes de Britto hadir di tanah misi “dunia baru pascapandemi covid-19” hari ini, “De Britto cukup sampai di sini. Pendidikan gaya Eropa, dengan tradisi akademik baratnya, dengan nafsu belajar globalnya, sudahi sudah. Saatnya masuki tradisi dan budaya lokal, dengan olah ilmu ketimurannya, dengan kesadaran menjunjung tinggi di mana bumi dunung.”

Lalu Yohanes de Britto akan belajar bahasa coding, merasul secara broadband, dan nanti membarui AMDG dari “Ad Maiorem Dei Gloriam” menjadi “Ad Minorem Dei Gloriam”. Terjemah bebas: demi kemuliaan Allah yang lebih kecil dan sederhana. Pengajarannya akan beralih dari “yang ndakik-ndakik” menjadi lebih spesifik. Pandemi covid-19 ini sudah sangat terang menunjukkan betapa Allah maha besar justru lewat operasi kecilnya berupa virus.

Artinya, yang lebih besar (maiorem) sudah tumbang oleh virus yang super kecil (minorem)!

Buktinya, pendidikan bebas sudah usang oleh kampus merdeka!

Pun nyatanya, man for others yang agung mulia itu sudah jadi remah remeh-temeh like, subscribe, & share!

 

Selamat Hari De Britto, 4 Februari 2021

@AA Kunto A | JB96