Uji Kebebasan

Terbiasa bebas, bagaimana ketika serba teratur? Potret siswa Kolese de Britto yang ikuti latihan kepanduan.

Siang sedang sangat terik, Kamis (16/10). Matahari sangat total membagi panasnya. 35 derajat Celcius, rekam alat pencatat suhu udara. Jogja sedang dipanggang gerah. Sudah beberapa hari sampai-sampai mereka yang mengeluh pun tak dipedulikan. Langit bolong.

Di atas aspal kompleks markas tentara, 243 lelaki ABG duduk berhadap-hadapan membentuk barisan memanjang sekira 80 meter. Sebagian menutupi kepala dengan topi supaya wajah mereka tak terbakar. Sia-sia, kulit mereka tetap melegam.

Usai antri mengambil nasi, sayur, lauk, dan segelas plastik teh, mereka siap bersantap. Tunggu aba-aba “berdoa selesai” dari ketua kelompok, rampak mereka bersahut, “Makannnn!” Lahap, cepat, dan habis. Tak ada butir nasi yang tersisa. Lauk pun tandas, kecuali tulang. Air di gelas asat hingga tetes terakhir.

Mereka memang lapar. Mereka juga haus. Namun, lapar dan haus itu sudah mereka bingkai dalam kesadaran bahwa ada banyak orang di luar sana yang tidak bisa makan. Ada banyak orang kelaparan. Maka, mereka pun bersantap hingga butir nasi terakhir.

Adegan ini secuil dari pemandangan panjang tentang “Latihan Kepanduan Tingkat Lanjut” SMA Kolese de Britto, yang digelar di Markas Paskhas TNI AU Yogyakarta, 14-17 Oktober 2014. Sama dengan anda, saya pun semula kaget mengetahui sekolah ini mengadakan kegiatan kepramukaan. Kaget, sejak kapan sekolah bertradisi “kebebasan” ini mau selenggarakan kegiatan berpagar “keberaturan”, apalagi kemiliteran? Padahal, baris-berbaris saja tak pernah. Upacara bendera saja hanya sesekali.

Dari tuturan guru, saya jadi tahu, di Kurikulum 2013, sekolah wajib selenggarakan kepanduan. Karena padatnya kegiatan siswa, dan tiadanya guru yang secara khusus kompeten di bidang ini, kegiatan kepanduan dimampatkan dalam empat hari pelatihan kepanduan ini. Pesertanya seluruh siswa kelas 11.

Bebet Darmawan, alumni De Britto tahun 1988 dipercaya mengemas pelatihan ini. Bersama timnya, Nawayaksa, ia menggandeng Paskhas TNI AU untuk menggembleng peserta mengenali keindonesiaan, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, kedebrittoan, kerjasama, solidaritas, keberanian, ketangguhan, dan lain-lain.

Dalam disiplin militer yang ketat, para manuk dibenturkan pada pengalaman yang sama sekali lain: kepatuhan pada perintah, pergerakan fisik (lari, merangkak, berjemur, berendam), dan penempaan mental lewat jurit malam, jalan di atas bara api, dan atraksi-atraksi penguji adrenalin lain.

Lewat refleksi yang dituangkan di buku, pengalaman ini mengantarkan peserta pada cara pandang baru terhadap militer. Mereka menulis, kali ini mereka lebih bisa menghormati tentara karena ternyata untuk mendapatkan pangkat atau tanda kecakapan tertentu, tentara harus menempuh ujian yang tidak ringan dan mudah. Mereka juga menulis, kali ini mereka terbuka pada sisi lain tentara. Ternyata tentara tak hanya bertempur memanggul senjata. Makanan yang mereka santap ternyata dimasak oleh tentara. Ruangan yang mereka duduki lantainya ternyata dipel oleh tentara. Lapangan yang mereka injak-injak rumputnya rupanya disiram oleh tentara. Jadilah, mereka melihat sisi manusiawi tentara.

Tertulis di buku renungan mereka, usai antri mandi dan mendapat jatah air yang sedikit, mereka jadi bisa lebih menghargai air. Juga ketika waktu minum ditentukan, mereka bisa merasakan bernilainya air sebagai penghapus dahaga. Sampai-sampai ada yang tidak mandi. Ampun deh baunya…

Mengikuti proses mereka, saya jatuh kagum pada orang-orang muda ini. Walau tampak kaget dan lelah, mereka tekun hingga akhir. Walau terbiasa berpendapat bebas di sekolah, mereka bersedia untuk hanya mengikuti apa yang diperintahkan pimpinan. Saya salut, mereka rendah hati untuk belajar.

“Hormat saya untuk kalian. De Britto menyiapkan kalian jadi pemimpin. Selalu di depan. Kali ini kalian bersedia dipimpin. Ada di belakang. Bukan siapa-siapa,” saya puji mereka ketika saya berkesempatan berbagi sebagai alumni. Saya kemukakan, tidak mudah hidup sebagai orang muda seperti mereka. Zaman teknologi informasi seperti sekarang, jika tidak diimbangi dengan olah fisik dan mental, hanya akan mengunci mereka sebagai pemikir cepat dan pintar namun mudah mengeluh dan patah ketika fasilitas tidak ada.

“Sekarang saya mulai paham apa arti kebebasan,” tukas Hayu, siswa asal Mojokerto, pada malam terakhir usai jurit malam.

Saya kagum pada guru-guru De Britto—guru-guru saya. Sebagai pengajar di perguruan tinggi dan pendamping kemahasiswaan, saya tahu persis bagaimana tantangan dalam mendampingi siswa. Tidak mudah. Toh, guru-guru mau telaten dengan berbagai cara meneladankan spirit man for others secara membadan. Ad Maiorem Dei Gloriam. (@AAKuntoA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *