Untuk Apa Gelar Pahlawan Nasional?

Hatta dan Soekarno

Saya setuju dengan Asvi Warman Adam soal pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soekarno dan Hatta. Jika memang undang-undang sudah menegaskan itu, kenapa pemerintah mengabaikannya? Untuk apa memberi gelar yang tidak perlu?

Bukankah sudah cukup bagi Soekarno dan Hatta mengenakan caping kebesaran sebagai pahlawan proklamator?

Bagi saya, kepahlawanan Soekarno dan Hatta untuk Indonesia sudah selesai. Perannya dalam membangun pengertian tentang kebangsaan, kenegaraan, dan kerakyatan sudah dibukukan oleh sejarah. Keterlibatannya dalam memproklamasikan berdirinya Republik Indonesia juga tidak perlu diragukan lagi.

Pun catatan-catatan tercecer dari mereka sudah banyak direkam oleh para sejarawan. Juga oleh bangsa ini. Termasuk pasang-surut relasi dwi tunggal itu. Pasang, ketika bergandeng tangan mewakili bangsa mengabarkan pada dunia tentang berdirinya Negara Indonesia. Juga pasang ketika Soekarno secara pribadi memilihkan Rahmi sebagai jodoh Hatta. Surut ketika keduanya pecah kongsi, tak lagi seiya-sekata, bertolak belakang pandangan politik. Namun tetap saja pasang ketika sebagai pengritik Soekarno terpedas pun Hatta menyediakan lututnya bagi anak-anak Soekarno yang bersungkem mohon restu menikah. Sisi kemanusiaan mereka mewariskan nilai besar bagi negeri ini, yakni tentang persaudaraan yang tak tercemari oleh pandangan politik atau apa pun. Bersaudara ya bersaudara. Berpolitik itu urusan lain.

Memberi Soekarno gelar pahlawan nasional dengan tak lagi mengacuhkan Pancasila,untuk apa? Pancasila jadi ideologi palsu. Hanya diucapkan di upacara-upacara tetapi dicampakkan di keseharian. Sila pertama dinodai dengan ketakutan dan ketersingkiran sebagian warga negara dalam menjalankan ibadah sesuai kepercayaannya. Sila kedua dikotori oleh nihilnya perlindungan negara pada warganya yang teraniaya dan bahkan hilang. Sila ketiga ditingkahi dengan mental parokial raja-raja kecil rezim pemekaran wilayah. Sila keempat dilunturi dengan pesta demokrasi yang serba pilih langsung, gemar “voting”, malas bermusyawarah. Sila kelima diboroki dengan sikap negara yang lebih berpihak kepada orang-orang kuat, pemodal,cukong-cukong pilkada, ketimbang kepada rakyat kebanyakan, alih-alih jelata.

Mengalungi Hatta gelar pahlawan nasional dengan tak lagi mengutamakan gagasan tentang koperasi, untuk apa? Demokrasi ekonomi malah dibajak. Bukan kekuatan orang yang dibangun tetapi kekuatan modal. Yang berduit yang dikasih jalan. Koperasi dianaktirikan, sebab kalah bahenol dengan korporasi. Pasar tradisional dibangkrutkan, dibakar, digusur. Pasar modern dimudahkan pendiriannya.

Untuk apa?

Selamat hari pahlawan!

 

AA Kunto A

[http://aakuntoa.com; aakuntoa@solusiide.com]

 

Foto Soekarno-Hatta pinjam dari sini.

2 Comments

Add Yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *