Urung Beriklan

[repost tulisan saya grup tertutup FB INDONESIA SERVICE & SALES EXCELLENCE CLUB]

Meskipun tahu di grup ini boleh mengiklankan buku karya sendiri, dan Coach Tjia Irawan sudah pula mengibarkan bendera hijau, namun entah kenapa saya tidak bersegera mengunggah iklan tentang buku tersebut.

Sejak buku “7 Steps of Writing Coaching” saya luncurkan awal September lalu, dengan hanya menampilkan sampul buku di beranda FB, WA, dan BBM, silih berganti teman-teman menghubungi saya. Mereka berminat membeli buku saya.

Tidak semua permintaan saya penuhi. Duh, saya malah praktik “pelayanan tidak prima”. Selain karena buku hanya saya cetak terbatas, saya juga hanya mau buku ini dibeli dan dibaca teman-teman yang sungguh-sungguh mau menulis buku.

“Untuk baca-baca siapa tahu nanti aku mau nulis buku” adalah contoh jawaban teman calon pembeli buku yang langsung saya balas dengan senyum lebar “hehehe”.

Menurut pengalaman saya, mereka yang hanya ingin menulis tak akan pernah benar-benar menulis. Mereka yang niatnya membaca buku tentang menulis juga tidak akan benar-benar menulis jika tidak praktik menulis.

Sebaliknya, semangat besar menulis juga bakal kandas di tengah jalan ketika tidak dilandasi tujuan yang jelas sedari awal. Asal menulis hanya akan mengantarkan mereka pergi jauh sampai ke asal. Tidak ke mana-mana.

Atas dasar itu, saya penasaran, bagaimana caranya memudahkan orang menulis buku dengan cara yang sangat personal, bukan dengan cara saya yang saya berlakukan untuk semua orang.

Ketemulah ide sederhana.

Agustus lalu saya melontarkan judul dan 3 desain sampul di dinding FB saya ini. Kepada teman-teman saya mintakan pendapat cover mana yang paling sesuai. Tambah, siapa sajakah yang mau membeli bakal buku saya.

Merasa dilibatkan, begitu banyak teman melimpahkan pendapat. Begitu banyak masukan saya unduh. Mereka peduli supaya saya menyempurnakan.

Merasa diprioritaskan, karena ada harga awal yang spesial, mereka membanjiri status dan inbox saya dengan pemesanan. “Sudah saya transfer ya, Mas….”

Saat itu saya belum menulis selembar pun. Baru ada corat-coret mind map sebagai panduan besar. Sebagian isi buku ada di kepala. Sebagian lain saya belum tahu.

Maka, cara mudah untuk segera menulis dan mengetahui apa saja yang sebaiknya saya tulis adalah melontarkan “hasil jadi” ke publik. Seperti pengembang properti, jual desain fasad dulu baru membangun. Seperti penjual makanan, tawarkan daftar menu dulu baru memasak.

Dari daftar pemesan buku, saya beroleh kepastian siapa saja yang bakal membaca buku saya. Dari mereka pula saya tahu pembahasan apa saja yang perlu saya tuangkan di buku.

Dan dari deretan angka di rekening “pesan buku 7SWC” saya tahu akibatnya jika buku yang saya janjikan tak lekas terbit, atau tidak terbit sama sekali.

Saya pun terpaksa menulis. Sudah telanjur janji. Sudah telanjur dibeli.

Menariknya, saya tak merasa sendiri. Saat menulis dan merasa kehabisan ide, saya buka daftar pemesan buku. Saya buka obrolan dengan mereka, “Bro, ngapain to kamu beli bukuku?” Teman baik lekas membalas, “Gini Bro… Aku tuh kalau menulis semangat di awal. Tapi di tengah jalan suka kehabisan ide.”

Aha, saya pun teringat metode “chunking” saat belajar NLP. Tentang struktur ide ke atas, samping, dan bawah. Jadilah kegundahan teman tadi saya jawab lewat bab tentang chunking ini.

Besoknya, ketika buku sudah jadi, dan teman-teman pemesan menerimanya, mereka bergantian mengirimkan kabar yang membungahkan saya, “Wow, bro… makasih bukunya. Aku banget isinya. Sekarang aku nemuin ide baru….”

Beginilah. Visualisasi di awal, membayangkan siapa saja yang bakal membaca, mengenali kebutuhan pembaca, memahami blok mental mereka, dan memastikan bagaimana caranya tulisan saya menggerakkan pembaca untuk segera menulis, memudahkan saya menulis buku yang isinya sangat tepat untuk setiap pembaca.

Dan hari-hari ini saya sibuk meladeni permintaan komunikasi dengan para pembaca buku saya. Saya memenuhi janji memberi voucher “writing coaching” senilai tertentu bagi mereka. Saya senang, beberapa pembaca langsung menulis seusai membaca buku saya. Mereka bahkan membagikan pengalamannya di media sosial dan men-tag/mention akun saya.

Kebanggaan tersendiri untuk saya: lebih dari sekadar buku saya laku, melainkan buku saya membangkitkan semangat pembaca untuk bersegera menulis buku. Saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Dan saya sudah membayangkan bagaimana kegembiraan mereka dan saya ketika buku mereka selesai dan terbit usai membaca buku saya.

Coach Tjia yang keren, mohon maaf saya tidak jadi mengiklankan buku terbaru saya “7 Steps of Writing Coaching” karena hari ini mesti ke percetakan untuk memroses cetak ulang ke-3. Maaf baru sebatas bercerita….

Salam menulis buku,
@AAKuntoA
www.solusiide.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *