Writing Coaching Hanya untuk Penulis Besar

WCR writeSupaya tahu, writing coaching memang sangat bisa membantu penulis besar, atau siapa pun yang mau jadi penulis besar, atau siapa pun yang bermimpi besar. Selain itu tidak.

 

“Mas, saya minta di-coaching menulis dong,” pinta seseorang di seberang pesan gawai.

Untuk apa?

“Ya biar bisa nulis aja,” jawabnya.

Emang mau nulis apa to?

“Ya nulis artikel apa cerpen gitu,” sahutnya.

Oh, kalau begitu, anda tidak butuh coaching.

“Lho…?”

Banyak orang belum paham tentang coaching, lebih-lebih tentang writing coaching. Mereka pikir coaching seperti pelatihan pada umumnya: diajari, dikasih teori, lalu tahu-tahu bisa setelah satu-dua kali berlatih.

 

Writing Coaching: Beda yang Membedakan

Writing coaching berbeda dengan “seminar menulis”, “workshop menulis”, bahkan “mentoring menulis”. Sangat jauh berbeda, baik dalam hal subjek, metode, maupun tujuan yang hendak dicapai.

Seminar menulis berisi paparan saja tentang suatu teori atau gagasan dalam menulis. Subjeknya pembicara seminar. Kalau pun ada sesi tanya jawab, forum berlangsung searah, yakni pembicara yang menentukan topik dan arah pembicaraan. Peserta pasif, mengikuti saja. Selesai seminar, peserta tahu sesuatu. Sampai di rumah mau mempraktikkan apa yang ia tahu? Tunggu sebentar. Seminar tidak membekali sampai ke bagaimana mempraktikkan pengetahuan tersebut.

Workshop menulis beda dengan seminar menulis. Walaupun materi dan metode ditentukan oleh pemateri namun peserta memiliki kesempatan besar terlibat dalam proses. Workshop menulis, selain berisi pemaparan tentang tema-tema tertentu yang bersifat wawasan (knowledge), juga mengajak peserta melatih kecakapan (skill) dalam menulis. Maka, seusai pemaparan, biasanya pemateri akan membimbing peserta mempraktikkan materi yang sudah diberikan. Bisa praktik perorangan, bisa dalam kelompok kecil-kecil. Sesudahnya, antarpeserta diajak melihat, mendengarkan, dan menilai karya peserta lain. Dari proses ini, peserta diajak menyambungkan materi yang diberikan pelatih dengan temuan mereka. Hasil penyambungan ini yang kemudian menjadikan satu peserta dengan peserta lain pulang dengan bekal yang berbeda seturut daya serap mereka. Sampai di rumah mau mempraktikkan hasil workshop? Untuk beberapa aspek yang sudah dilatihkan di workshop bisa. Itu pun terbatas dengan metode yang disampaikan pelatih.

Bagaimana dengan mentoring? Pada dasarnya mirip dengan seminar dan workshop. Kesamaan pokoknya ada pada subjek pemateri: harus sudah ahli menulis. Ahli menulis bisa dimengerti sebagai sosok yang sudah berpengalaman menulis, tahu banyak tentang teknik-teknik menulis, dan lebih-lebih sudah diakui oleh publik sebagai pakar di bidang kepenulisan. Bedanya, mentoring lebih intensif. Tidak berlangsung sekali saja. Mesti berulang-ulang. Subjeknya ada pada mentor, yakni segala materi dan teknik yang diberikan kepada peserta bersumber dari pengetahuan dan keahlian mentor. Mentor ditempatkan sebagai narasumber yang sudah terpercaya. Peserta tinggal mengunduh materi dan teknik yang diberikan, serta berlatih sama persis seperti teknik yang diajarkan. Hasilnya? Peserta yang sukses akan berhasil menulis sebagus mentor.

Writing coaching berbeda dengan metode di atas. Lebih-lebih writing coaching bersama saya. Peserta (coachee/klien), saat selesai jalani writing coaching, akan merasakan sensasi luar biasa yang tidak ia peroleh dari seminar, workshop, dan mentoring. Bukan sensasional. Sensasi: “Wow, saya berhasil menyelesaikan tulisan saya secara memuaskan dengan metode yang saya temukan dan tempuh sendiri.” Kurang lebih itu hasil akhirnya. Ada kepuasan, ada kebanggaan, dan lebih-lebih ada pencapaian yang lebih.

Writing Coaching: Ikhtiar Mental

Bersama saya, writing coaching pertama-tama mensyaratkan ikhtiar mental. Wawasan dan kecakapan menyusul. Sikap mental dulu yang dikedepankan. Sikap apa? “Saya butuh bisa menulis. Saya mau menulis. Saya mau selesaikan menulis.” Siapa yang menyatakan sikap? Writing coachee!

Itu saja tidak cukup. Hanya orang yang memiliki mimpi besar yang saya terima sebagai coachee. Dalam NLP (neuro-linguistic programming), ilmu sikap yang mendasari metode write coaching yang saya kembangkan, mimpi besar tersebut disebut wellformed outcome (WFO). WFO yang ramah pikiran, lebih kuat, dan mudah dicapai mensyaratkan beberapa hal. Saya ceritakan sebelum anda ketahui intinya nanti.

Seorang klien datang kepada saya. Ia seorang pebisnis sekaligus konsultan, yang sesekali pula mengajar di perguruan tinggi. Lelaki 40-an tersebut ingin menulis buku. Kami berbincang-bincang tak kurang di tiga tempat berbeda di waktu yang berbeda.

Pertemuan pertama dan kedua masih berisi obrolan ringan, menurut ukuran saya. Ia baru mengutarakan niat bisa menulis buku sementara hati kecilnya berkata besar bahwa itu sulit baginya. Saya masih menanggapi dengan pertanyaan-pertanyaan ringan saja. Lebih untuk menguji kesungguhannya. Bagi saya, pertemuan awal ini penting untuk mengukur kadar keinginan seseorang. Bagi yang keinginannya tidak kuat, apalagi sekadar ingin seperti orang lain, dapat saya pastikan sekali bertemu langsung mundur. Alasan klasiknya, “Saya siapkan dananya dulu ya Mas….” Begitulah, gol kecil diiringi oleh “alasan untuk menghindar”, sedangkan WFO disertai oleh “alasan untuk mencapai”.

 

Writing Coaching: Wellformed Outcome

Di pertemuan ketiga, setelah saya obrak-abrik cara berpikir (mindset)-nya, barulah kami sampai kepada WFO. Klien saya kemudian bercerita bagaimana bisa menerbitkan buku dalam tiga bulan. Mengapa tiga bulan? Karena sudah menjadwalkan seminar di berbagai kota. Apa hubungan seminar dan buku? Dalam rencananya, seminar yang ia isi akan berbicara tentang buku yang mau ia tulis. Lebih dari itu, setiap peserta seminar akan mendapatkan buku hasil karyanya. Nah, jadwal seminar sudah disepakati dengan panitia daerah, sementara buku belum ia tulis, pusinglah dia.

Yup. Saat pusing ini saat yang genting. Saat yang penting untuk merumuskan WFO secara lebih spesifik. Klien saya membayangkan, jika saat ia jadi pembicara seminar buku tersebut belum jadi maka betapa malunya. Sudah janji tidak ditepati. Dalam NLP, ia digerakkan oleh motivasi menghindari (away) kesengsaraan. Ia menulis buku supaya tidak malu.

“Saya tidak tahu harus menaruh muka saya di mana kalau pas seminar buku saya belum jadi,” ujarnya ketika itu.

Lalu? Ini yang mengejutkan.

“Sudah saya putuskan untuk cuti 15 hari untuk menulis buku ini. Khusus untuk menyelesaikan buku ini,” tegasnya. Wow, saya kagum atas keputusannya. Dari semula terbayang menulis buku membutuhkan waktu setahun, kemudian melihat kemungkinan selesai dalam enam bulan, kemudian tertantang untuk merampungkan dalam tiga bulan, akhirnya memutuskan untuk mempercepat hanya dalam 15 hari. Ia yang memutuskan. Bukan saya. Sebagai CoachWriter, tugas saya hanya memandunya lebih fokus pada apa yang mau dicapai.

Begini panduan sederhananya ketika ia sudah menemukan WFO:

Saya bertanya, untuk menulis 150 halaman supaya naskah layak dibukukan, berapa waktu yang anda butuhkan?

“Tiga bulan,” sahutnya.

Baik. Biasanya, sehari anda sanggup menulis berapa halaman?

“Tiga halaman.”

Kalau lima halaman bagaimana?

“Oh, masih sanggup.”

Kalau tujuh halaman?

“Bisa, dengan sedikit memaksa.”

Demi terbitnya buku, dan supaya anda tidak malu jika tak jadi terbit, berapa halaman sanggup anda selesaikan dengan lebih memaksa diri lagi? Sepuluh halaman?

“Hmmm… sepuluh halaman… iya deh. Berarti saya perlu luangkan waktu khusus untuk menulis.”

Begitu ya. Kalau sehari anda selesaikan 10 halaman, 150 halaman akan selesai dalam berapa hari?

“Hahaha… 15 hari selesai ya?”

 

Writing Coaching: Lebih Awet

Sesederhana ini keputusan diambil. Di writing coaching, momentum ini disebut “aha moment”. Ini momentum yang mendebarkan, yakni ketika klien merasa seolah sudah menyelesaikan pekerjaannya secara mudah dan cepat padahal baru memikirkannya. Momentum ini yang kemudian disambut secara cepat sebagai keputusan untuk lekas memulai.

Dan benar. Klien saya itu bertekun 15 hari menulis buku. Dan selesai sesuai rencananya. Sekarang buku itu sudah terbit lewat penerbit yang juga ia upayakan sendiri mencari hingga menemukannya. Sekarang buku itu sudah dikelilingkan dalam seminar-seminar sesuai mimpinya.

Dan menariknya, sekarang, ia sudah hampir merampungkan naskah buku kedua tanpa melibatkan saya lagi. Writing coaching membuatnya menemukan metode sendiri merampungkan bukunya. Ia tinggal mengulang sukses sebelumnya untuk kembali sukses membidani lahirnya buku-buku berikutnya. Ini yang menjadikan writing coaching berbeda, bahkan lebih memberdayakan, daripada metode pelatihan menulis yang lain.

Nah, sekarang anda jadi paham kan kenapa saya tidak mau meng-coaching penulis yang mimpinya kecil?

 

Salam WFO,

@AAKuntoA

CoachWriter | Licensed NLP Practitioner, The Society of NLP, USA

www.solusiide.com | aakuntoa@solusiide.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *