Yang Sudah Berbagi Dapat Bagian

Suster Regina Siu, OSU, sudah menulis dua buku. Salah satunya berjudul “Romantika Hidup Membiara” (Penerbit Obor). Tokoh penceritanya bernama Suciati.

Darinya saya belajar tentang kerendahan hati. Bahwa “sudah” bukan berarti “selesai”. “Sudah” berarti “ada yang belum”.

Sudah menulis buku, dan direspons bagus oleh pembaca, tak menyurutkan langkahnya untuk belajar cara lain menulis buku. Saya tersanjung ketika ia ikut dalam kelas menulis yang saya fasilitasi. Duduk di paling depan pula, lengkap dengan banyak pertanyaan yang kerap dilontarkannya untuk memperjelas pemahaman.

Darinya saya belajar tentang sikap belajar: hadir, benamkan diri, dan antusias bergerak cepat. Persis spirit capung yang oleh Bilik Batik Jogja dijadikan motif batik dan saya kenakan.

Atas kesediaannya mencontohkan tentang sikap belajar, di akhir lokakarya saya hadiahkan buku “7 Steps of Writing Coaching”. “Tidak semua orang boleh membeli buku ini jika tidak berkomitmen menulis buku. Sedang bagi yang sudah menulis buku, seperti Suster Regina, saya tak segan menghadiahkan buku ini,” tukas saya kepada suster-suster Ursulin yang datang ke Bandung dari Atambua, Surabaya, Kuningan, Sukabumi, dan Jakarta itu. Sengaja saya kompori mereka supaya mereka juga menulis. Supaya kehadiran mereka 160 tahun di Indonesia makin berjejak.

Siapa yang akan baca tulisan mereka? Minimal alumni sekolah-sekolah keren yang mereka kelola: Sanur (Santa Ursula), Santa Maria, Santa Angela, Santo Bernardus, Santo Yusup. Itu minimal. Padahal banyak kisah, pengalaman, dan pemikiran mereka yang publik luas ingin tahu: tentang bagaimana mendirikan dan mengelola lembaga pendidikan bermutu, tentang ketangguhan menjangkau dan melayani masyarakat di ujung-ujung dunia, atau tentang bagaimana mereka beradaptasi dengan teknologi apa pun yang terkini.

Ursulin itu kaya. Kaya cerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *