Blog

Ganjuran-Sabirin, Jejak Sepeda Kayuh dari Stela Dus hingga De Britto

Dirgahayu 73 Tahun SMA Stella Duce 1 & SMA Kolese de Britto

Dirgahayu 73 Tahun SMA Stella Duce 1 & SMA Kolese de Britto

Ujian sekolah diundur, ujian kehidupan dimajukan. Inilah sebagian kisah, dan alumnae SMA Stella Duce 1 ini tokoh utamanya, hingga saya bisa sekolah di SMA Kolese de Britto.

Oktober 1965 jadwal ujian kelulusan SMP. Diundur. Pecah gestok (gerakan satu oktober); kudeta merangkak militer pada pemerintah berkuasa.

Ibu salah satu peserta ujian itu. Ia bersekolah di SMP Kanisius Ganjuran, Bantul. Masih sangat belia untuk memahami situasi. Radio transistor yang dibeli Mbah Kakung, ayah Ibu, baru layak dengar isi beritanya oleh dua kakak lelakinya: Kangmas Pertama dan Kangmas Kedua.

Joni, Glorifikasi Kepahlawanan di Atas Kepala Kebodohan

Joni dan tiang bendera yang pangkalnya saya kotaki hijau. (foto: capture Youtube Mediapro Music)

Joni dan tiang bendera yang pangkalnya saya kotaki hijau. (foto: capture Youtube Mediapro Music)

Masih ingat Joni, pemanjat tiang bendera pada upacara bendera 17 Agustus 2018 di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur? Betul, Joni yang viral itu.

Peringati 76 tahun kemerdekaan Republik Indonesia 2021, saya kok ingin merenungkan peristiwa tersebut; setelah empat tahun berubahkah kita? Sudahkah kita merdeka dari bertindak asal-asalan?

Evita Lilies: “Don’t Cry for Me, Kutusian!”

Poster film "Evita" (1986) (image: evita-themovies.com)

Poster film “Evita” (1996) (image: evita-themovies.com)

Ada “Evita” di depan nama Lilies, ternyata. Saya baru mengetahuinya saat ikut misa pemberkatan jenasah almarhumah yang wafat 6 Agustus 2021. Selama ini saya hanya tahu nama beliau Lilies Susanti Handayani.

Belajar dari sang suami Servasius “Babe Bambang” Pranoto, saya ingin mengenang Bunda Lilies dengan mencatat warisan nilai berharga yang beliau teladankan selama hidup. “Hari ini adalah hari bahagia karena Bunda telah bertemu dengan Tuhan.”

Jika Pakde Koko Copywriter Agung, Siapakah Parto Ekrak?

Pakde Koko (pegang HP) bersama beberapa Kagama Jogja di Ndalem Mangunsudiran, 8 Februari 2019. (foto: Albert Pratama)

Pakde Koko (pegang HP) cerita topik “Makanyaaaa!” di tengah beberapa Kagama Jogja di Ndalem Mangunsudiran, 8 Februari 2019. (foto: Albert Pratama)

Berkat tulisan orang kenal, bahkan merasa dekat dan akrab. Saat ajal, orang kehilangan, kemudian lebih-lebih rindu tulisannya.

Pakde Koko meninggal pada Hari Minggu, 1 Agustus 2021. Taburan doa dan ucapan duka sontak membuncah di tengah Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada), menyatakan kehilangan atas berpulangnya alumni Fakultas Psikologi angkatan 1981 tersebut.