Blog

Sama-sama berisiko, apa pentingnya pendidikan dan asuransi?

Pendidikan dan asuransi adalah bahasa lain dari berjaga-jagalah sebab segala kemungkinan bisa terjadi.

Pendidikan dan asuransi adalah bahasa lain dari berjaga-jagalah sebab segala kemungkinan bisa terjadi.

Pendidikan, yang tak pernah menjamin orang pintar dan sukses, kenapa diminati?

Sedangkan asuransi, yang tak pernah menjamin orang sehat dan hidup panjang, kenapa tak diminati?

Dua pertanyaan itu menggelitik saya. Semoga juga menggelitik anda. Maka, mari kita urai bareng secara ringan dan menyenangkan.

Tutup De Britto, demi kemuliaan Allah yang semakin kecil

Tutup. Hening. Siapkan sesuatu yang baru. Foto: Sarah Kloepping/USA TODAY NETWORK

Tutup. Hening. Siapkan sesuatu yang baru. Foto: Sarah Kloepping/USA TODAY NETWORK

Meneladan Santo Yohanes de Britto pada “dunia baru pandemi covid-19”, seperti apa?

Gagasan saya singkat: tutup SMA Kolese de Britto! Rehat 1-2 tahun, lalu dirikan sesuatu yang sama sekali baru. Sistem pendidikan baru. Pun guru-guru baru. Tidak usah sentimentil dengan kejayaan masa lalu. Sudah selesai, songsong masa depan! Menteri pendidikan saja bisa kok tak berlatar kependidikan.

4 hal paling menyebalkan dari De Britto (4)

Setiap diminta menulis tentang peran De Britto dalam kehidupan dan profesi saya, rasa canggung selalu menyertai. Bukan saja karena terlalu banyak hal bisa saya ceritakan, namun karena saya mesti memilih sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Ya, karena saya sudah banyak menulis tentang “saya dan De Britto” di berbagai kesempatan dan banyak media. Saya tidak ingin mengulang—karena itu pasti menyebalkan bagi pembaca.

Saya pun tak kalah sebal karenanya! De Britto memang menyebalkan dalam hal seperti ini. Bagi saya.

Kali ini, berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya mau bercerita tentang apa saja yang sangat menyebalkan dari De Britto.

  1. Man for others

Semboyan ini sangat hidup di De Britto. Seperti pokok ajaran, setiap pribadi menghayati nilai ini sebagai keberanian untuk melepaskan kemelekatan (sacra indifferentia) kita pada sesuatu demi orang lain. Tidak boleh egois, yakni fokus untuk diri sendiri, melainkan mesti altruis, yakni menyediakan diri untuk orang lain.

Menilai diri membebaskan batas

Senang mengajar tak serta-merta membikin saya senang menilai. Betah mengajar seharian namun gundah ketika sejam saja duduk sebagai juri memilih karya orang lain; atau sebagai guru membubuhkan nilai.

Bukan soal menilai itu tidak penting. Saya yang merasa tidak sreg menilai; juga tak memiliki bekal memadai bagaimana menilai secara profesional dan adil. Lebih hepi melatih banyak orang lebih cakap menulis daripada menyingkirkan potensi-potensi penulis demi memilih satu-dua yang memenuhi kualifikasi tertentu.

4 hal paling menyebalkan dari De Britto (3)

Setiap diminta menulis tentang peran De Britto dalam kehidupan dan profesi saya, rasa canggung selalu menyertai. Bukan saja karena terlalu banyak hal bisa saya ceritakan, namun karena saya mesti memilih sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Ya, karena saya sudah banyak menulis tentang “saya dan De Britto” di berbagai kesempatan dan banyak media. Saya tidak ingin mengulang—karena itu pasti menyebalkan bagi pembaca.

Saya pun tak kalah sebal karenanya! De Britto memang menyebalkan dalam hal seperti ini. Bagi saya.

Kali ini, berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya mau bercerita tentang apa saja yang sangat menyebalkan dari De Britto.

  1. Magis

Ada dua pengertian magis yang saya resapi dari prinsip dan dasar Latihan Rohani Ignatian yang saya kenal sejak sekolah di De Britto. Pertama, jika bisa lebih bagus kenapa hanya bagus saja? Kedua, justru karena sulit maka tantangan wajib diterima.