Jeeva, Aroma Nusantara Warisan Dunia

Trimagis

Candi Borobudur berdiri dengan tiga lapisan: kamadatu, rupadatu, arupadatu. Layak ia dinobatkan Unesco sebagai warisan dunia.

Jeeva berdiri dengan tiga lapisan serupa. Siapkah ia menjadi warisan dunia berikutnya?

Diminta speech di soft opening “Jeeva Product” di Shangri-La Hotel, Surabaya, 3 Juni 2021, saya menyampaikan ini:

Sebagai orang Yogyakarta, saya mau bercerita tentang Candi Borobudur yang terletak di kabupaten dan provinsi sebelah namun tercantum di brosur dan website promosi destinasi wisata Yogyakarta.

Candi Borobudur, yang oleh Unesco ditetapkan sebagai warisan dunia pada 1991, berdiri dengan struktur yang terdiri dari tiga lapisan utama: kamadatu, rupadatu, dan arupadatu.

Jeeva berdiri dengan struktur yang terdiri dari tiga lapisan utama. Ketiga lapisan tersebut bisa kita temukan dalam tagline perusahaan “bangunlah jeevanya, bangunlah raganya, untuk Nusantara”.

Kamadatu adalah pondasi. Anda yang pernah mengunjunginya tidak bisa melihat lapisan yang tertutup oleh tanah ini. Meski begitu, anda tentu tahu, ada bebatuan yang tersusun sedemikian sebagai pondasi sehingga candi keseluruhan bisa berdiri kokoh.

Lapisan di atasnya disebut rupadatu. Ini tubuh utama candi. Ciri-ciri utama pada lapisan ini adalah relief keliling. Relief ini menggambarkan perjalanan manusia di dunia. Jika anda mengelilingi dengan jalan ke kiri anda akan mendapati cerita yang berbeda dengan jika anda mengelilinginya ke kanan. Baik ke kiri maupun ke kanan, relief tersebut melukiskan proses transformasi manusia dari kehidupan lama menuju kehidupan baru, dari kehidupan di dunia menuju kehidupan sesudahnya.

Selesai mengitari lapisan ini naiklah ke lapisan paling atas yang disebut arupadatu. Tidak ada lagi relief di lapisan ini. Yang ada tinggal stupa sebagai simbol kehidupan manusia yang sudah sempurna. Arupadatu adalah puncak perjalanan manusia menjadi pribadi yang murni.

Produk yang baik diolah oleh tim terbaik menjadikannya pantas dipasarkan dalam dua bentuk: Jeeva minyak dan Jeeva Product. Sebagai hasil, keduanya adalah minyak murni, yang nilainya jauh lebih tinggi dari sebelum disuling.

Jeeva, yang hari  ini kita hadiri soft launching-nya, bagi saya, serupa dengan Candi Borobudur. Jeeva berdiri dengan struktur yang terdiri dari tiga lapisan utama. Ketiga lapisan tersebut bisa kita temukan dalam tagline perusahaan “bangunlah jeevanya, bangunlah raganya, untuk nusantara”.

Bangunlah jeevanya adalah pondasi, struktur dasar yang menopang tegak berdirinya bisnis. Sebagaimana pondasi, lapisan dasar ini tidak kelihatan dari luar tapi terasa besar perannya.

Pondasi ini, oleh Jeeva sudah diwujudkan lewat penanaman nilam di Sumenep. Nilam yang ditanam di sana menggunakan bibit terbaik Sidikalang dan ditanam secara benar oleh petani yang ditempatkan sebagai mitra. Jadi, ada tiga kata kunci di sini: baik, benar, dan kemitraan.

Lapisan atasnya bangunlah raganya adalah proses produksi dan postur perusahaan. Daun kering nilam yang dipanen petani disuling menjadi minyak atsiri terbaik di dunia. Siapa pengolahnya? Adalah tim manajemen yang terdiri dari para ahli yang kompeten di bidangnya. Ada yang ahli tanaman, ada yang ahli pengolahan hasil panen, dan ada yang ahli pemasaran.

Produk yang baik diolah oleh tim terbaik menjadikannya pantas dipasarkan dalam dua bentuk: Jeeva minyak dan Jeeva Product. Sebagai hasil, keduanya adalah minyak murni, yang nilainya jauh lebih tinggi dari sebelum disuling. Bagaimana tidak bernilai tinggi, dari 2 ton daun kering, hanya 100 kg minyak nilam yang dihasilkan. Itu pun dengan kualitas di atas standar internasional: kandungan alkoholnya di atas 30. Hasil terbaik inilah yang layak dipasarkan, baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk siapa semua itu? Untuk nusantara.

Ibu dan Bapak, hari ini, 3 Juni 2021, 30 tahun setelah Unesco menetapkan Candi Borobudur sebagai warisan dunia, di Surabaya, Jeeva Product mendeklarasikan diri sebagai warisan dunia berikutnya. Kita dukung dan doakan.

***

Apa hubungan cerita Candi Borobudur tadi dengan Jeeva Product?

Jeeva tidak tinggal diam mengetahui ada mutiara berharga di bumi nusantara: nilam. Tak dibiarkannya nilam nusantara tersebut diklaim oleh bangsa lain.

Bagi yang paham, kisah tentang Candi Borobudur di atas berisi sentilan. Saya bahasakan dengan ringan demikian: karena pemerintah daerah setempat tidak bisa mengemas dan memasarkan keunggulan mereka maka Candi Borobudur dipasarkan oleh Yogyakarta, yang secara teritori beda provinsi dan sudah terkenal sebagai kota pariwisata.

Jeeva tak mau mengulang kisah promosi Candi Borobudur meskipun mengunduh filosofinya. Artinya, Jeeva tidak tinggal diam mengetahui ada mutiara berharga di bumi nusantara: nilam. Tak dibiarkannya nilam nusantara tersebut diklaim oleh bangsa lain. Jeeva kelola sendiri: tanam, suling, dan pasarkan.

Kelola sendiri tak berarti kerja sendiri. Jeeva bermitra dengan petani. Sejajar, punya peran setara dalam budidaya nilam. Jeeva menyediakan bibit dan pupuk, petani sediakan lahan dan menanamnya. Jeeva dampingi prosesnya, petani pastikan nilam tumbuh subur tanpa diganggu gulma. Petani memanennya, Jeeva membelinya.

Digitalisasi sistem sedang disiapkan. Transparansi ditunjukkan Jeeva sebagai salah satu pilar untuk menegakkan semangat #milenialbertani.

Semua proses berlangsung terbuka. Digitalisasi sistem sedang disiapkan. Transparansi ditunjukkan Jeeva sebagai salah satu pilar untuk menegakkan semangat #milenialbertani. Salah satu kriteria dalam berbisnis bagi generasi milenial adalah transparansi.

Di balik kisah “kekayaan yang diklaim pihak lain” itu, Candi Borobudur juga jadi inspirasi apa rahasia suatu bangunan bisa bertahan lama. Tiga lapisan yang menyusun candi peninggalan Dinasti Syailendra tersebut mengilustrasikan bagaimana supaya bisnis bisa kokoh dan lestari. Jeeva merumuskan lewat tagline “bangunlah jeevanya, bangunlah badannya, untuk Nusantara”.

Dengan pondasi yang kuat “bangunlah jeevanya”, tiang penyangga yang kokoh “bangunlah raganya”, dan tujuan bisnis yang mulia “untuk nusantara”, bagi saya, Jeeva terang-terang sudah menyatakan diri hendak berbisnis untuk jangka panjang. Bukan bisnis musiman.

@AAKuntoA | 03062021

5 Comments

Add Yours

Comments are closed.