Kisah Rajawali, Bangkit dan Berdamai dengan Trauma

Kisah penyintas Covid-19: kajian autoetnografisKisah penyintas Covid-19: kajian autoetnografis

Berapa lebar batas hidup dan mati? Berapa tebal batas pengharapan dan kepasrahan? Berapa luas batas amarah dan pengampunan?

Kini saya tahu jawabannya: xxvi+224 halaman buku “Memoar Covid-19″ karya Izak Y. M. Lattu.

Untuk anda yang pernah bergulat dengan Covid-19, baik sebagai pasien, keluarga pasien, tetangga pasien, tenaga medis, relawan/satgas, peneliti, atau apa pun, buku ini sangat layak anda baca. Isi buku ini komplet, berupa catatan penulis sebagai penyintas, kajian penulis sebagai intelektual/dosen, dan refleksi penulis sebagai pendeta dan tokoh lintas agama.

Tepatlah buku ini dilabeli “catatan autoetnografi” berdimensi psikologis, sosio-antropologis, dan teologis. Secara penulisan, penulis piawai mengelola alur cerita sehingga menghanyutkan sekaligus bijak mengajak pembaca berjarak sehingga tidak larut. Dalam bahasa saya, penulis seperti mengajak: “Hati boleh teraduk, otak baik mengendap.”

Saya? Teraduk!

Judul bab “Covid-19 dan Stigma Sosial” langsung menyandera mata begitu saya membuka daftar isi buku. Saya lewatkan kata pengantar dan bab-bab pembuka demi langsung menuju jantung ketertarikan saya.

Saya kenal Izak tahun 2003. Kami sama-sama ikut tes wartawan Kompas di Palmerah, Jakarta. Saya tidak diterima, Izak diterima namun kemudian mengundurkan diri dan lebih memilih jadi dosen di UKSW Salatiga.

Kami tak pernah ketemu sejak itu. Hanya berjejaring pertemanan di FB. Ada kontak WA namun hanya sekali-dua kami bertegur-sapa. Meski begitu, saya mengikuti perjalanan intelektualnya hingga kelar S3 dari Amerika Serikat dan kembali ke desa urban Salatiga. Sebab dia mendalami “sosiologi agama”-lah saya merasa sepeminatan. Namun lucunya, saya tidak tahu kapan dia mulai jadi pendeta. Jadi, saya panggil dia ya “bra-bro” saja atau langsung panggil nama, “Zak!” Nggak panggil dia Chaken seperti sahabat-sahabat dekatnya memanggil? Tidak. Saya tidak kenal dekat dengan dia dan keluarganya. Entah, bagaimana sosiologi menjelaskan situasi “merasa dekat padahal jauh” ini?

Iya, jauh. Nyatanya, saya tidak tahu bahwa pasien pertama Covid-19 di Kota Salatiga adalah Izak. Unggahannya di FB seperti nggak lewat di beranda. Atau lewat tapi tertutup kabar lain yang sedang berhamburan kala itu, termasuk meninggalnya pasien pertama di DIY, yang juga dosen, yang adalah tetangga saya. Atau… saya sedang sibuk dengan diri sendìri kala itu menghadapi situasi yang saya tidak tahu arah mata anginnya.

Saya tahu Izak penyintas Covid-19 setahun kemudian ketika saya sedang kerap ke Salatiga membangun tim kerja. Seingat saya, dua kali saya berkabar dengannya. Tidak bisa bertemu keduanya karena waktu tidak cocok. Waktu itu, saya baru tahu pasien pertama yang “saya baca sebagai angka statistik” adalah dia. Maka, ingin sekali saya dengar langsung cerita darinya.

Ketika menerima buku ini pekan lalu, hari sudah larut malam, saya bergegas membuka: halaman 55. Judul bab “Covid-19 dan Stigma Sosial” langsung menyandera mata begitu saya membuka daftar isi buku. Saya lewatkan kata pengantar dan bab-bab pembuka demi langsung menuju jantung ketertarikan saya.

“Pesan WA Ketua RT mengatasnamakan warga perumahan dengan tingkat pendidikan tertinggi di wilayah itu. Pendidikan tinggi tidak menjamin orang memiliki empati di tengah pandemi Covid-19.”

Izak berkisah, ia ada dalam perjalanan “lebih panjang dari biasanya” dari Amerika Serikat, setelah serangkaian acara yang dibatalkan karena wabah mulai merebak, kembali ke Tanah Air, yang wabah “hoax” lebih dulu mematikan akal sehat. Tengah malam membaca bagian ini saya terhisap dalam suasana sangat-sangat senyap. “Covid-19 tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga berpotensi membunuh kemanusiaan. Pertengahan 2020 itu, stigma dan menghakimi orang lain secara sosial memang menginfeksi banyak orang, termasuk saya,” tulis Izak menutup bab di halaman 61.

Enam halaman itu jika difilmkan akan sepanjang “The Terminal” (2004). Dalam “The Terminal”, Viktor Navaroski (Tom Hanks) terjebak di Bandara JF Kennedy, tidak bisa keluar atau kembali ke negaranya, Krakhozia, karena negaranya tidak dikenali setelah bubar akibat pemberontakan.

Mirip Izak. Di enam halaman itu ia “terjebak” di Bandara Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, usai berhasil terbang dari Bandara JF Kennedy, New York. Kalau difilmkan, catatan di halaman 65 dan 42 bisa jadi kunci cerita bagaimana ia “ingin pulang Salatiga tak diterima, sudah diterima di AS namun tak ingin kembali”. Situasi dilematis yang dramatis.

Di halaman 65, Izak menulis ulang pesan Ketua RT tempat ia tinggal di rumah dinas, “Saya berharap jangan ke perumahan x dulu. Warga keberatan. Harus ada pemeriksaan kesehatan.” Izak menggugat dalam hati waktu itu, lalu dalam buku ini ia menuliskannya, “Pesan WA Ketua RT mengatasnamakan warga perumahan dengan tingkat pendidikan tertinggi di wilayah itu. Pendidikan tinggi tidak menjamin orang memiliki empati di tengah pandemi Covid-19.”

Namun, buru-buru Izak menyusulkan ungkapan penjernih, “Penolakan ini di kemudian hari saya anggap sangat wajar dan bisa dipahami karena kepanikan nasional dan dunia. Namun tidak waktu itu.”

Saya bayangkan, saat itu, ingin rasanya ia kembali ke Amerika Serikat, tempat ia diterima di mana-mana, di setiap kota ia punya keluarga. Ia tulis di halaman 42 bagaimana pelayanannya di sebuah Gereja Huria Kristen Batak Protestan di New York menjadikannya dekat dengan orang-orang muda Batak. Izak mengutip candaan salah satu majelis gereja itu tahun 2014 usai menggondol gelar doktor, “Amang Pendeta, nda usah pulang ke Indonesia, jadi pendeta kami saja di sini.”

“Tetap pulang,” akhir dari cerita jika difilmkan. Ada banyak alasan bagi Izak. Pertama dan terutama keluarga. Istrinya, Dokter Retno, lebih-lebih sedang mengandung anak ketiga, adik-adik kedua putrinya. Anak-anak mereka Jambon, Jawa-Ambon.

Sebagai penyintas, ia sempat merasa sia-sia membangun fondasi intelektual dan relasi sosial, ketika ia diisolasi dan hanya dihidupi ventilator, belum lagi stigma di luar yang liar menyebar tanpa ia bisa mengendalikannya.

Lagi, ia sedang getol merumuskan “Bali Jawa”, penelitiannya atas konsep kembali ke nilai-nilai Jawa di GKJTU Ngaduman. Belum lagi kelas “interreligious dialogue” di CRCS UGM maupun projek panjang membangun dialog antariman bersama saudara-saudara Nahdliyin dan pemuka-pemuka agama lain terang memanggil-manggilnya pulang.

Lalu buku ini berupa kecamuk di pusaran dilema. Jika lolos ia tercerahkan, jika terhisap ia hilang.

Sebagai memoar, buku ini bertutur sepotong perjalanan hidup Izak dalam kelindan solidaritas antariman yang terkoyak pandemi Covid-19. Kelindan itu rupanya kokoh sekaligus rentan roboh. Sebagai penyintas, ia sempat merasa sia-sia membangun fondasi intelektual dan relasi sosial, ketika ia diisolasi dan hanya dihidupi ventilator, belum lagi stigma di luar yang liar menyebar tanpa ia bisa mengendalikannya; di saat bersamaan, ia tahu kemudian lewat pesan singkat yang ia baca sepulang dari rumah sakit, betapa cinta berhamburan menyelimuthangatinya dari dinginnya virus yang mematikan dalam rupa kesungguhan dokter yang mengobati dan perawat berhijab yang selalu mengajaknya berdoa meski dalam kondisi tidak sadar.

Izak seperti beroleh peneguhan jawaban atas pertanyaan yang muncul ketika ia mengisi seminar “teologi virtual” di hari awal ketibaannya di AS terakhir, “Apakah Tuhan memahami doa saya di Facebook? Apakah Tuhan memahami bahasa data?” Rasanya, jawaban ada di buku yang ditulisnya: apakah manusia pun bisa mendengar bahasa data mengingat saat orang-orang mendoakannya, di antaranya lewat pesan di WA, Izak menulis di halaman 171 tentang “kekuatan mimpi dan imajinasi” yang ia tulis sangat berwarna, mengalami gradasi. Dalam mimpinya ia bertemu dengan banyak saudara yang meninggal.

Ia juga bertemu ayahanda yang sudah wafat tujuh tahun sebelumnya. Ayahanda memanggil, “Nyong,” dan Izak menawar, “Papa jangan ajak beta pergi dulu. Beta masih punya banyak tugas.” Ayahnya pergi dengan senyum, menghilang dari mimpi, dan Izak bangun dari tidur panjang 13 hari. (hlm. 175)

Pantas saya sebut Izak sebagai Rajawali Reborn, yang setelah memotong bulu sayap dan paruhnya lewat pengalaman menjadi penyintas Covid-19 saatnya kembali terbang tinggi mengabarkan inspirasi sebagai pribadi, sosiolog, dan pendeta secara baru.

Begitu sadar, dengan masih mengenakan ventilator, ia meminta perawat video call Retno. Nomor WA istrinya satu-satunya nomor yang ia ingat. “Sejak pacaran dulu dia nggak pernah berganti nomor,” ujar Izak.

Apakah begitu? Meminjam ungkapan Prof Sumanto Al Qurtuby dalam pengantarnya, “Entahlah, saya tidak tahu.” Yang ia tahu, “Buku ini mengandung pesan moral-spiritual yang dalam, yaitu kematian dan kesembuhan seseorang itu menjadi salah satu atau bagian dari ‘misteri kehidupan’… apakah kesembuhan Pdt Izak dari ancaman maut covid itu bagian dari ‘campur tangan gaib supranatural’ yang masih menghendaki atau menginginkan ia berkarya di dunia ini?” (hlm. xvi-xvii)

Secara autoetnografi, buku ini kaya akan pengetahuan yang melekat pada Izak, sejak masa kecilnya, dalam perjalanan intelektualnya, hingga catatan-catatan imannya. Kita bisa membayangkan bagaimana ia bertumbuh di Masohi, Pulau Seram, yang ia sebut sebelum Belanda datang dengan “imajinasi kolonial”-nya (hlm. 174) membuat (bukan mencerabut-pen) mereka berpindah dari rumpun Pasifik ke Asia.

Paracetamol, penurun panas, ia mau meminumnya, selain istri yang dokter bisa memberikan penjelasan masuk akal, juga karena di akalnya tersimpan ingatan masa kecil. “Saya kenal betul dengan obat ini sejak kecil. Almarhum Ayah dulu membangun apotek kecil di SD tempatnya menjadi kepala sekolah. Ayah mendapat obat-obat itu dari sahabatnya, seorang mantri, pada puskesmas di kampung tetangga.” Ia ingat, pagi itu 30 Maret 2020, demamnya naik dari 38 ke 39 derajat. Ia harus pakai sungkup karena sulit sekali bernapas.\

Ingatan masa kecil, salah satunya, membantu memulihkannya. Maka, dugaan saya, itu pula kenapa Izak memberi kesempatan putrinya mendesain sampul bukunya. Oleh putri-putrinya corona virus digambar dengan pasir di Pantai Jepara. Seperti tersirat pesan: setelah diabadikan biarlah hanyut tersapu ombak. Persis tulisan Izak di bab terakhir “Pulang: Berdamai dengan Trauma”.

Ups, lalu kenapa saya menjuduli tulisan ini KISAH RAJAWALI?

Pertama, Izak dirawat di Gedung Rajawali, RS Kariadi, Semarang. Ia cerita banyak di buku ini.

Kedua, Izak pernah mengerjakan proposal Rajawali Scholarship yang membawanya menulis disertasi di Harvard University.

Ketiga, pantas saya sebut Izak sebagai Rajawali Reborn, yang setelah memotong bulu sayap dan paruhnya lewat pengalaman menjadi penyintas Covid-19 saatnya kembali terbang tinggi mengabarkan inspirasi sebagai pribadi, sosiolog, dan pendeta secara baru.

@AAKuntoA | 12032022

16 Comments

Add Yours

Comments are closed.